Komisi B DPRD Pati Ajukan Anggaran Pelatihan Petani Milenial untuk Tingkatkan Produktivitas Pertanian
Karesidenan.com – 18 April 2026 | Usulan anggaran yang diajukan mencakup beberapa komponen utama, antara lain:
- Penyediaan modul pelatihan berbasis digital yang mencakup topik seperti agrikultur presisi, penggunaan drone untuk pemetaan lahan, dan aplikasi sistem informasi geografis (SIG) dalam manajemen pertanian.
- Penyelenggaraan workshop intensif selama tiga hari di setiap kecamatan, yang melibatkan pakar pertanian, lembaga riset, serta perwakilan dari institusi keuangan yang dapat memberikan edukasi tentang kredit pertanian.
- Pengadaan peralatan demo, seperti sensor kelembaban tanah, alat pemantau cuaca, dan starter kit untuk pertanian organik, yang dapat dipinjam oleh petani peserta pelatihan.
- Pengembangan platform daring yang memungkinkan petani milenial berbagi pengalaman, bertukar informasi pasar, serta mengakses layanan konsultasi agronomi secara real-time.
Estimasi total kebutuhan anggaran mencapai Rp 5,2 miliar untuk tahun anggaran 2026/2027. Dana tersebut direncanakan akan bersumber dari alokasi APBD Kabupaten Pati, serta dukungan dari program pendanaan pusat yang berfokus pada pengembangan pertanian berkelanjutan.
Berbagai stakeholder lokal menyambut baik inisiatif ini. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pati, Ibu Siti Nurhaliza, menyatakan bahwa program pelatihan ini akan menutup kesenjangan pengetahuan antara petani tradisional dan generasi milenial yang lebih terpapar pada teknologi. “Kami akan berkolaborasi dengan perguruan tinggi pertanian dan lembaga swadaya masyarakat untuk memastikan materi pelatihan sesuai dengan kebutuhan lapangan,” ujar Ibu Siti.
Selain itu, perwakilan Asosiasi Pengusaha Pangan Jawa Tengah (APPJAT) menekankan pentingnya pelatihan dalam meningkatkan nilai tambah produk pertanian. “Dengan pengetahuan yang tepat, petani milenial dapat mengolah hasil panen menjadi produk bernilai tinggi, seperti makanan olahan organik atau bahan baku industri, sehingga membuka peluang pasar yang lebih luas,” kata Bapak Rudi Hartono, Ketua APPJAT.
Program pelatihan ini tidak hanya berfokus pada aspek teknis, melainkan juga menitikberatkan pada pengembangan soft skill. Materi manajemen usaha, pemasaran digital, serta literasi keuangan akan menjadi bagian integral dari kurikulum. Hal ini bertujuan agar petani milenial dapat mengelola usaha mereka secara lebih profesional, mengoptimalkan profitabilitas, dan mengurangi ketergantungan pada perantara.
Untuk memastikan keberlanjutan program, Komisi B DPRD Pati merencanakan evaluasi berkala setiap enam bulan. Indikator keberhasilan meliputi peningkatan produktivitas lahan, jumlah petani yang berhasil mengakses kredit pertanian, serta pertumbuhan pendapatan petani milenial. Data ini akan dipublikasikan dalam laporan transparan yang dapat diakses oleh masyarakat luas.
Secara umum, usulan anggaran ini mencerminkan komitmen pemerintah daerah dalam mendorong pertanian modern dan inklusif. Dengan menginvestasikan sumber daya pada generasi muda, Kabupaten Pati berupaya menciptakan ekosistem pertanian yang adaptif terhadap perubahan iklim, sekaligus membuka lapangan kerja baru di sektor agribisnis. Jika disetujui, pelatihan pertama dijadwalkan akan dimulai pada kuartal ketiga tahun 2026, dengan target melibatkan lebih dari 1.200 petani milenial dari seluruh kecamatan di Pati.
Harapan besar tertuju pada dampak jangka panjang program ini, tidak hanya dalam meningkatkan produksi pangan daerah, tetapi juga dalam memperkuat ketahanan pangan nasional. Seiring dengan berkembangnya kompetensi petani muda, diharapkan tercipta sinergi antara inovasi teknologi, kebijakan pemerintah, dan partisipasi aktif masyarakat dalam membangun pertanian yang berkelanjutan.
Komentar (0)