El Preman Justin Hubner: Dari Tekel Brutal Hingga Polemik Paspor, Mengguncang Eredivisie!

Oleh Tim Karesidenan 15 Apr 2026, 07:06 WIB 23 Views

Karesidenan.com – 15 April 2026 | Bek timnas Indonesia yang juga berstatus naturalisasi ini kembali menjadi sorotan publik setelah aksi kerasnya dalam laga Fortuna Sittard vs NAC Breda pada 12 April 2026. Dikenal dengan julukan “El Preman” karena gaya bermainnya yang tak kenal kompromi, Justin Hubner menorehkan tekel keras yang melukai pemain lawan, sekaligus melontarkan kritik tajam terhadap manajemen klub lawan terkait isu “passportgate“.

Dalam pertandingan yang berakhir imbang 1-1, Hubner menampilkan performa defensif yang solid. Namun, pada menit ke-34, ia melakukan tekel keras ke arah gelandang NAC Breda, Lewis Holtby, tepat di area penalti. Kontak tersebut menyebabkan tulang kering Holtby robek, namun wasit memutuskan tidak memberi kartu atau penalti. Insiden ini memicu perdebatan luas di media, termasuk liputan dari Sportmediaset Italia yang menyoroti cedera parah tersebut serta sikap sportivitas Hubner yang kemudian meminta maaf melalui Instagram.

Hubner tak hanya terlibat dalam duel fisik. Ia juga menjadi tokoh utama dalam polemik administrasi yang melibatkan empat pemain naturalisasi Indonesia di Liga Belanda. Pada pertengahan Maret 2026, NAC Breda menyoroti status paspor Dean James, menuduh masih memegang paspor Belanda meski telah menjadi WNI. KNKNB dan imigrasi Belanda melakukan penyelidikan, yang berdampak pada Hubner, Tim Geypens, dan Nathan Tjoe‑A‑On. Semua pemain tersebut sempat dilarang berlatih dan bermain hingga masalah izin kerja diselesaikan.

Hubner menanggapi dengan keras. Dalam pernyataan yang diunggah ke Instagram ESPN Belanda pada 15 April 2026, ia menyebut situasi itu “sangat tidak menyenangkan” dan menganggap tindakan NAC Breda sebagai skandal. Ia menegaskan bahwa pemain naturalisasi hanya menginginkan kesempatan bermain, bukan terjebak dalam birokrasi yang menghambat karier.

Karakter agresif Hubner bukan hal baru. Sejak debutnya bersama Fortuna Sittard melawan Go Ahead Eagles pada Agustus 2025, ia sudah beberapa kali terlibat insiden serupa. Pada Desember 2025, ia mendapat kartu merah setelah menanduk wonderkid Ajax, Rayane Bounida, dengan tekel berlebihan yang dianggap pelatihnya sendiri sebagai “tindakan bodoh”. Musim 2025/2026, Hubner mengumpulkan tujuh kartu kuning dari 21 penampilan, bahkan absen beberapa pertandingan karena akumulasi kartu.

Selain di Belanda, Hubner pernah bermain di Jepang untuk Cerezo Osaka, di mana ia juga pernah menerima kartu merah karena pelanggaran keras. Sikap blak‑blakannya tidak hanya terbatas di lapangan; ia sering mengeluarkan pernyataan kontroversial di media sosial, termasuk foto yang memperlihatkan aksi brutal terhadap pemain Arab Saudi dalam putaran kualifikasi Piala Dunia 2026. Setelah menerima kritik publik, ia kembali meminta maaf.

Meski gaya bermainnya menimbulkan cedera pada lawan, Hubner tetap memiliki basis penggemar yang luas. Pendukungnya mengapresiasi keberanian dan semangat juangnya, bahkan menyebutnya sebagai “pahlawan bertahan” yang mampu menghalau serangan lawan. Di sisi lain, pelatih dan analis menilai bahwa agresivitas berlebih dapat merugikan tim, terutama ketika berujung pada kartu merah atau cedera pemain lawan.

Berita lain mengungkap bahwa Hubner juga terlibat dalam diskusi tentang hak pemain naturalisasi di Liga Belanda. Ia menuntut agar klub‑klub memperlakukan pemain naturalisasi setara dengan pemain lokal, tanpa diskriminasi administratif. Kritiknya mengingatkan pada kasus serupa yang melibatkan pemain lain, seperti Dean James, yang sempat diparkir karena masalah paspor.

Secara statistik, selama musim 2025/2026 Hubner mencatat 21 penampilan, 7 kartu kuning, 1 kartu merah, serta kontribusi defensif berupa 3 intersep penting dan 5 tekel sukses. Meskipun sering berada di zona abu‑abu regulasi, ia tetap menjadi pilihan utama pelatih Fortuna Sittard untuk menguatkan lini belakang.

Hubner juga menunjukkan sisi manusiawi setelah insiden. Ia mengirimkan pesan pribadi kepada Holtby melalui Instagram, menyatakan penyesalan atas cedera yang terjadi dan berharap lawannya cepat pulih. Holtby menanggapi dengan positif, menegaskan bahwa kejadian tersebut merupakan bagian dari risiko sepak bola.

Dengan semua dinamika ini, karier Justin Hubner masih menjadi sorotan utama di dunia sepak bola Indonesia dan Belanda. Bagaimana ia menyeimbangkan agresivitas di lapangan dengan tanggung jawab profesional serta hak-hak pemain naturalisasi akan menjadi pertanyaan penting ke depan.

Ke depan, harapan para pendukung dan pengamat adalah Hubner dapat menyalurkan energi kerasnya menjadi performa yang lebih terkontrol, sekaligus menjadi advokat bagi pemain naturalisasi dalam memperjuangkan hak bermain tanpa hambatan administratif. Jika berhasil, ia tidak hanya akan dikenang sebagai “El Preman” yang menakutkan, tetapi juga sebagai sosok yang memperjuangkan keadilan di dunia sepak bola.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin penulis.

Komentar (0)