BRIN Peringatkan Ancaman Kembalinya Wabah Pes lewat Gigitan Pinjal dan Tikus di Indonesia
Karesidenan.com – 14 April 2026 | Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi mengeluarkan peringatan serius tentang potensi kebangkitan kembali wabah pes di wilayah Indonesia. Menurut data pemantauan terbaru, peningkatan populasi rodensia dan infestasi kutu pinjal (Xenopsylla cheopis) meningkatkan risiko penularan bakteri Yersinia pestis, penyebab penyakit mematikan tersebut.
Wabah pes, yang dikenal dengan istilah “pes” di Indonesia, pernah melanda negara ini pada era kolonial dan menewaskan ribuan orang. Sejak abad ke-20, Indonesia tidak mencatat kasus lokal yang signifikan, namun bakteri penyebabnya masih terdeteksi pada populasi hewan liar, khususnya tikus pengerat di daerah pedesaan dan perkotaan yang kurang sanitasi.
BRIN menyoroti dua jalur utama penularan kembali: gigitan kutu yang hidup pada tikus (pinjal) dan kontak langsung dengan tikus yang terinfeksi. Kutu pinjal dapat mentransmisikan Y. pestis ke manusia saat menggigit, sementara penularan melalui kontak langsung terjadi bila cairan tubuh atau jaringan tikus yang terinfeksi masuk ke luka terbuka atau selaput lendir.
Beberapa faktor lingkungan memperparah ancaman ini. Musim hujan yang berkepanjangan meningkatkan ketersediaan makanan bagi tikus, sedangkan sampah organik yang menumpuk di daerah permukiman menciptakan tempat persembunyian ideal. Selain itu, perubahan iklim yang menyebabkan suhu lebih hangat mempercepat siklus hidup kutu, sehingga populasi mereka dapat melonjak dalam waktu singkat.
Dalam rangka memitigasi risiko, BRIN telah menyusun program pemantauan terintegrasi yang mencakup tiga komponen utama:
- Survei populasi tikus dan kutu di zona rawan, terutama di daerah pertanian, pasar tradisional, dan pemukiman kumuh.
- Pengujian laboratorium terhadap sampel kutu dan jaringan tikus untuk mendeteksi keberadaan Y. pestis secara cepat.
- Penyuluhan masyarakat tentang cara mencegah gigitan kutu dan mengurangi interaksi dengan tikus.
Berikut adalah rangkuman singkat mengenai gejala klinis pes pada manusia serta langkah preventif yang direkomendasikan:
| Gejala | Langkah Preventif |
|---|---|
| Demam tinggi, menggigil, nyeri otot | Hindari kontak dengan tikus dan gunakan pakaian pelindung saat bekerja di area berisiko. |
| Bengkak pada kelenjar getah bening (buboes) | Lakukan kontrol kebersihan lingkungan, termasuk pengelolaan sampah dan pemeliharaan kebun. |
| Sesak napas, batuk (bentuk pneumonik) | Segera cari perawatan medis jika mengalami gejala setelah potensial terpapar. |
Para ahli menekankan bahwa pencegahan harus dimulai dari tingkat komunitas. Menjaga kebersihan lingkungan, menutup rapat tempat penyimpanan makanan, serta melakukan pengendalian hama secara rutin dapat menurunkan populasi tikus secara signifikan. Pemerintah daerah diharapkan berkoordinasi dengan dinas kesehatan setempat untuk melaksanakan program pengendalian hama berbasis komunitas.
Selain upaya preventif, BRIN juga menyiapkan protokol penanggulangan cepat apabila kasus teridentifikasi. Protokol meliputi isolasi pasien, pemberian antibiotik yang sesuai (streptomisin atau gentamisin), serta pelacakan kontak erat untuk mencegah penyebaran lebih luas.
Kesadaran publik menjadi kunci utama. Masyarakat diimbau melaporkan penemuan tikus mati atau kutu dalam jumlah besar kepada otoritas setempat, serta tidak mengabaikan gejala demam tinggi yang tidak diketahui penyebabnya. Dengan sinergi antara lembaga riset, pemerintah, dan warga, Indonesia dapat mencegah terulangnya tragedi kesehatan yang pernah melanda masa lampau.
BRIN menegaskan komitmennya untuk terus memantau situasi dan menyediakan data ilmiah yang akurat bagi pembuat kebijakan. Kewaspadaan bersama diharapkan dapat menjaga Indonesia tetap aman dari ancaman kembali wabah pes yang mengancam nyawa.


Komentar (0)