Program Makan Bergizi Gratis Didorong di Salatiga, Muh Haris Tekankan Peran Aktif Masyarakat

Oleh Tim Karesidenan 15 Apr 2026, 01:11 WIB 19 Views

Karesidenan.com – 15 April 2026 | Salatiga, Jawa Tengah – Pemerintah Kota Salatiga kembali menggelar sosialisasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai upaya memperluas pemahaman warga tentang pentingnya gizi seimbang. Acara yang berlangsung pada pekan lalu melibatkan pejabat daerah, tokoh masyarakat, serta perwakilan lembaga kesehatan setempat. Ketua Dinas Kesehatan Kota Salatiga, Muh Haris, menekankan bahwa keberhasilan program tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, melainkan memerlukan kontribusi aktif dari seluruh lapisan masyarakat.

Program Makan Bergizi Gratis diluncurkan pada awal tahun 2023 dengan tujuan utama menurunkan angka gizi buruk di kalangan anak-anak usia dini serta meningkatkan status gizi ibu hamil dan menyusui. Hingga kini, lebih dari 5.000 warga telah menerima manfaat langsung berupa paket makanan bergizi yang disalurkan melalui puskesmas, posyandu, dan pusat layanan terpadu (PLT) di seluruh wilayah kota.

Dalam rangka meningkatkan efektivitas program, sosialisasi kali ini difokuskan pada tiga aspek kunci: edukasi pola makan sehat, cara memanfaatkan bahan pangan lokal, dan peran serta warga dalam memantau pelaksanaan. Muh Haris menyampaikan, “Kami ingin setiap keluarga di Salatiga tidak hanya menerima bantuan, tetapi juga memahami mengapa makanan bergizi itu penting bagi pertumbuhan dan daya tahan tubuh. Kesadaran itu akan menjadi motor penggerak keberlanjutan program.”

Acara dimulai dengan sambutan Bupati Kabupaten Semarang yang hadir sebagai tamu kehormatan, diikuti oleh pemaparan data statistik gizi yang menunjukkan penurunan prevalensi stunting sebesar 2,3 persen dalam satu tahun terakhir. Selanjutnya, tim teknis MBG memaparkan prosedur distribusi makanan, termasuk mekanisme verifikasi penerima manfaat dan pelaporan hasil secara digital melalui aplikasi SiMbaGizi.

Untuk memperkuat pesan edukatif, para peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok diskusi yang dipandu oleh ahli gizi. Diskusi menyoroti cara mengkombinasikan sumber protein nabati dan hewani, pentingnya sayuran hijau, serta teknik pengolahan makanan yang mempertahankan nilai nutrisi. Hasil diskusi dirangkum dalam daftar poin berikut:

  • Pilihlah sumber protein seperti tempe, tahu, ikan, atau daging tanpa lemak.
  • Sertakan sayuran berdaun hijau dalam setiap kali makan untuk asupan zat besi dan vitamin A.
  • Gunakan metode memasak seperti mengukus atau merebus singkat untuk mengurangi kehilangan nutrisi.
  • Perbanyak konsumsi buah lokal yang kaya antioksidan, seperti pepaya, mangga, dan jambu biji.

Setelah sesi edukasi, Muh Haris menegaskan beberapa langkah konkret yang diharapkan dapat diadopsi oleh warga:

  1. Menjadi relawan di posyandu untuk membantu pencatatan data gizi anak.
  2. Mengajak tetangga dan keluarga untuk mengikuti pelatihan gizi yang diadakan secara periodik.
  3. Melaporkan kendala distribusi atau kualitas makanan melalui hotline MBG.

Lebih jauh, pemerintah kota berencana memperluas cakupan program ke wilayah pinggiran yang selama ini kurang terjangkau. Anggaran tambahan sebesar Rp 12 miliar untuk tahun anggaran 2026 telah disetujui oleh DPRD, yang akan dialokasikan untuk pengadaan bahan pangan lokal, pelatihan kader gizi, serta pengembangan sistem monitoring berbasis GIS.

Tak hanya pemerintah, sektor swasta dan lembaga non‑profit juga diundang untuk berpartisipasi. Beberapa perusahaan agribisnis setempat berjanji menyediakan bahan baku berkualitas, sementara yayasan sosial menawarkan bantuan logistik dan pelatihan keterampilan memasak sehat.

Para peserta sosialisasi menyatakan antusiasme tinggi terhadap program ini. Seorang ibu rumah tangga, Siti Nurhaliza, mengatakan, “Saya dulu tidak tahu pentingnya memberi sayur pada anak setiap hari. Sekarang saya mengerti dan akan coba mengaplikasikan apa yang diajarkan.” Begitu pula dengan Pak Budi, kepala RW 04, yang menambahkan, “Dengan menjadi relawan, saya rasa bisa membantu mengawasi distribusi agar tidak ada yang terlewat.”

Analisis internal tim MBG mengindikasikan bahwa keberlanjutan program sangat dipengaruhi oleh tingkat partisipasi masyarakat. Oleh karena itu, strategi komunikasi yang melibatkan media lokal, radio komunitas, serta grup media sosial kota menjadi prioritas utama dalam fase berikutnya.

Secara keseluruhan, Program Makan Bergizi Gratis di Salatiga kini berada pada jalur yang tepat untuk mencapai target pengurangan gizi buruk secara signifikan. Keterlibatan aktif warga, dukungan lintas sektoral, serta alokasi anggaran yang memadai menjadi fondasi kuat bagi program ini. Jika sinergi tersebut terus terjaga, diharapkan Salatiga dapat menjadi contoh sukses bagi kota‑kota lain di Jawa Tengah dalam upaya meningkatkan status gizi masyarakat.

Dengan komitmen bersama, diharapkan tidak hanya angka statistik yang membaik, tetapi juga kualitas hidup warga Salatiga secara keseluruhan. Program Makan Bergizi Gratis tetap menjadi agenda prioritas yang akan terus digencarkan, selaras dengan visi Pemerintah Kota Salatiga untuk menciptakan generasi sehat dan produktif.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin penulis.

Komentar (0)