SMA Lab UPGRIS Ditetapkan Satuan Pendidikan Aman Bencana, Dorongan Praktik Mahasiswa Universitas PGRI Semarang

Oleh Tim Karesidenan 14 Apr 2026, 22:41 WIB 15 Views

Karesidenan.com – 14 April 2026 | SemarangUniversitas PGRI Semarang (UPGRIS) menegaskan komitmennya dalam memperkuat konsep Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) dengan menginisiasi mahasiswa Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) di SMA Lab UPGRIS. Inisiatif ini menjadi langkah konkret untuk mengintegrasikan mitigasi bencana ke dalam proses pembelajaran, sekaligus menyiapkan generasi muda yang lebih siap menghadapi risiko alam.

Ruang lingkup SPAB menekankan pentingnya kesiapsiagaan, mitigasi, dan respons bencana di lingkungan sekolah. Dengan menjadikan SMA Lab UPGRIS sebagai satuan pendidikan yang aman, diharapkan seluruh komponen sekolah—guru, siswa, tenaga kependidikan, serta orang tua—dapat berperan aktif dalam menciptakan budaya keselamatan yang berkelanjutan.

Program PPL yang diluncurkan oleh Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas PGRI Semarang menargetkan mahasiswa jurusan Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah. Selama tiga bulan, mereka akan melakukan penilaian risiko, menyusun rencana tindakan darurat, serta mengimplementasikan simulasi evakuasi di SMA Lab. Kegiatan ini tidak hanya menambah pengalaman lapangan bagi mahasiswa, tetapi juga memberikan kontribusi langsung pada peningkatan kapasitas sekolah dalam menangani potensi bencana.

“Kami ingin mahasiswa tidak hanya belajar teori di kampus, melainkan juga memahami realitas di lapangan,” ujar Dr. Ahmad Fauzi, Ketua Program PPL FKIP. “Melalui kerja sama dengan SMA Lab UPGRIS, kami dapat menguji dan mengembangkan strategi mitigasi yang relevan dengan kondisi setempat, sekaligus memberikan manfaat nyata bagi komunitas sekolah.”

Berikut beberapa tahapan utama yang dijalankan selama program PPL:

  • Identifikasi Risiko: Tim mahasiswa melakukan survei lingkungan sekolah, mengidentifikasi potensi bahaya seperti gempa bumi, banjir, dan kebakaran.
  • Penyusunan Rencana Aksi: Berdasarkan temuan, disusun prosedur evakuasi, titik kumpul, serta skema komunikasi darurat.
  • Pelatihan dan Simulasi: Guru dan siswa dilatih cara menggunakan peralatan darurat, serta melaksanakan simulasi evakuasi secara periodik.
  • Evaluasi dan Pelaporan: Hasil pelaksanaan dievaluasi, kemudian disusun laporan rekomendasi perbaikan berkelanjutan.

Manfaat yang diharapkan tidak hanya terbatas pada peningkatan kesiapsiagaan bencana. Program ini juga memperkuat kualitas pendidikan dengan menanamkan nilai-nilai kepedulian, kerjasama tim, dan kepemimpinan pada siswa. Selain itu, guru mendapat kesempatan untuk memperbaharui pengetahuan mereka mengenai prosedur keselamatan modern.

Kepala Sekolah SMA Lab UPGRIS, Ibu Siti Nurhaliza, menyampaikan apresiasinya terhadap kolaborasi ini. “Kita sudah lama menyadari pentingnya kesiapsiagaan bencana, namun masih ada gap antara teori dan praktik. Dengan dukungan mahasiswa Universitas PGRI, kami dapat mengisi kekosongan itu dan mewujudkan lingkungan belajar yang lebih aman bagi semua pihak,” ujarnya.

Selain itu, pihak dinas pendidikan daerah Jawa Tengah memberikan dukungan kebijakan, mengingat SPAB merupakan bagian dari program nasional untuk memperkuat ketahanan bencana di sektor pendidikan. Dinas menekankan bahwa inisiatif serupa dapat direplikasi di sekolah-sekolah lain di provinsi tersebut.

Data terbaru Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan bahwa Jawa Tengah merupakan salah satu provinsi dengan risiko gempa dan banjir tinggi. Oleh karena itu, integrasi SPAB di institusi pendidikan menjadi prioritas strategis. Implementasi di SMA Lab UPGRIS dapat menjadi model bagi sekolah-sekolah lain, terutama dalam hal pendekatan berbasis komunitas dan partisipasi aktif mahasiswa.

Selama fase awal, tim PPL berhasil mengidentifikasi tiga titik rawan di area sekolah: ruang laboratorium kimia yang berada dekat jalur evakuasi utama, area lapangan olahraga yang rawan genangan air saat hujan lebat, dan gedung administrasi yang belum dilengkapi sistem peringatan dini. Berdasarkan temuan tersebut, rekomendasi perbaikan meliputi pemasangan tanda evakuasi yang jelas, penambahan peralatan pemadam kebakaran, serta pengadaan sistem alarm suara.

Keberhasilan inisiatif ini tidak lepas dari dukungan pihak-pihak terkait, termasuk Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, serta Lembaga Sosial Masyarakat (LSM) yang bergerak di bidang mitigasi bencana. Semua pihak berkomitmen untuk menyediakan sumber daya, baik berupa fasilitas maupun tenaga ahli, demi menciptakan lingkungan pendidikan yang tangguh.

Ke depannya, Universitas PGRI Semarang berencana memperluas program PPL ke sekolah menengah atas dan madrasah di wilayah Semarang serta sekitarnya. Dengan pendekatan yang terintegrasi, diharapkan jaringan Satuan Pendidikan Aman Bencana akan semakin luas, menjangkau ribuan siswa dan tenaga pendidik.

Secara keseluruhan, inisiatif SMA Lab UPGRIS sebagai Satuan Pendidikan Aman Bencana menandai langkah progresif dalam upaya penguatan ketahanan bencana di sektor pendidikan. Kolaborasi antara perguruan tinggi, sekolah, dan pemerintah daerah menjadi kunci utama untuk menciptakan lingkungan belajar yang tidak hanya akademis, tetapi juga aman dan resilien.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin penulis.

Komentar (0)