DPRD Jateng Dorong Perpustakaan Jadi Pusat Literasi dengan Kunjungan Mencapai 4,3 Juta

Oleh Tim Karesidenan 21 Apr 2026, 00:21 WIB 15 Views

Karesidenan.com – 21 April 2026 | SEMARANG – Statistik kunjungan Perpustakaan Daerah (Perpusda) Jawa Tengah menunjukkan angka mengesankan, yakni 4,3 juta kunjungan selama tahun 2025. Angka tersebut mencakup kunjungan langsung ke ruang baca serta akses daring melalui aplikasi iJateng. Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Tengah, Mohammad Saleh, menilai bahwa tingginya partisipasi masyarakat mencerminkan minat yang kuat terhadap literasi di provinsi ini.

  • Pengembangan ruang kreatif untuk kegiatan menulis, diskusi buku, dan workshop literasi.
  • Peningkatan koleksi digital dan integrasi sistem peminjaman daring yang ramah pengguna.
  • Kerjasama dengan lembaga pendidikan dan komunitas budaya untuk menyelenggarakan acara tematik.

Saleh juga mengusulkan agar Perpusda dijadikan “hub literasi” yang menghubungkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk sekolah, perguruan tinggi, organisasi non‑pemerintah, serta pelaku industri kreatif. Ide ini bertujuan menciptakan ekosistem pembelajaran yang inklusif, di mana perpustakaan tidak lagi terbatas pada fungsi peminjaman buku, melainkan menjadi ruang kolaboratif yang mendukung inovasi dan kreativitas.

Data kunjungan yang diperoleh melalui aplikasi iJateng mengindikasikan peningkatan signifikan pada akses daring, terutama di wilayah pedesaan. Hal ini menandakan bahwa digitalisasi layanan perpustakaan telah memperluas jangkauan literasi kepada masyarakat yang sebelumnya sulit dijangkau. Saleh menilai bahwa pemanfaatan teknologi informasi harus terus dioptimalkan, termasuk penyediaan e‑book, jurnal elektronik, serta platform pembelajaran interaktif yang dapat diakses secara gratis.

Dalam rapat kerja bersama pimpinan Perpusda dan stakeholder terkait, dibahas beberapa strategi konkret untuk mengoptimalkan peran perpustakaan. Di antaranya, penambahan fasilitas seperti studio rekaman audio, ruang maker‑lab, serta area belajar kolaboratif yang dilengkapi dengan akses internet cepat. Selain itu, program pelatihan literasi digital bagi para pengunjung, terutama anak‑anak muda, dijadwalkan menjadi agenda rutin.

Upaya memperkuat peran perpustakaan juga sejalan dengan kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang menargetkan peningkatan Indeks Literasi Daerah (ILD) secara berkelanjutan. Dengan memposisikan perpustakaan sebagai pusat layanan literasi, diharapkan dapat menurunkan tingkat buta huruf, meningkatkan kemampuan membaca kritis, serta menumbuhkan budaya menulis di kalangan warga.

Para pengunjung Perpusda menyambut baik inisiatif tersebut. Seorang mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan mengungkapkan, “Saya merasa lebih termotivasi belajar karena perpustakaan kini menawarkan ruang diskusi dan workshop yang relevan dengan kebutuhan akademik kami.” Sementara seorang ibu rumah tangga di wilayah Kabupaten Kendal menyatakan, “Akses aplikasi iJateng memudahkan saya menemukan buku anak secara digital tanpa harus datang jauh ke perpustakaan.”

Dengan dukungan legislatif dan sinergi lintas sektor, DPRD Jateng berharap Perpusda dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam mengintegrasikan layanan literasi tradisional dan digital. Kebijakan ini tidak hanya meningkatkan jumlah pengunjung, tetapi juga memperkaya kualitas interaksi antara masyarakat dengan sumber pengetahuan.

Kesimpulannya, dorongan DPRD Jawa Tengah untuk menjadikan perpustakaan sebagai pusat beragam aktivitas literasi menunjukkan komitmen kuat dalam memajukan budaya membaca dan belajar di era digital. Melalui program inovatif, peningkatan fasilitas, serta kolaborasi luas, diharapkan perpustakaan dapat terus berperan sebagai motor penggerak literasi yang inklusif dan berkelanjutan bagi seluruh lapisan masyarakat Jawa Tengah.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin penulis.

Komentar (0)