Walkot Salatiga Desak Tenaga Kesehatan RSUD Soebarkat Tjiptodarmodjo Tunjukkan Empati Tinggi dalam Pelayanan Pasien

Oleh Tim Karesidenan 16 Apr 2026, 00:35 WIB 18 Views

Karesidenan.com – 16 April 2026 | Robby Hernawan, Walikota Salatiga, menegaskan pentingnya empati dalam setiap interaksi antara tenaga kesehatan dan pasien di RSUD dr. Soebarkat Tjiptodarmodjo. Dalam sebuah pernyataan resmi yang disampaikan pada Senin (12 April 2024), ia menekankan bahwa layanan medis tidak hanya diukur dari segi profesionalisme teknis, melainkan juga dari kemampuan menyentuh hati pasien.

Walikota Salatiga juga menyoroti tiga pilar utama yang harus dijadikan landasan dalam pelayanan kesehatan: kecepatan, ketepatan, dan pendekatan humanis. Dalam konteks pandemi COVID-19 yang masih berlangsung, kecepatan dalam memberikan diagnosis dan penanganan sangat krusial. Namun, kecepatan tanpa empati dapat menimbulkan rasa terabaikan di pihak pasien.

“Kami tidak ingin layanan menjadi sekadar prosedur mekanis. Setiap pasien memiliki cerita, kekhawatiran, dan kebutuhan emosional yang berbeda. Tenaga medis harus mampu menyesuaikan pendekatan mereka, sehingga pasien tidak hanya sembuh secara fisik, tetapi juga merasa tenang secara mental,” kata Robby.

Untuk mewujudkan visi tersebut, Walikota Salatiga mengumumkan serangkaian langkah konkret yang akan diimplementasikan di RSUD dr. Soebarkat Tjiptodarmodjo:

  • Pelatihan empati: Seluruh dokter, perawat, dan staf pendukung akan mengikuti modul pelatihan yang mengajarkan teknik komunikasi efektif, mendengarkan aktif, dan penanganan stres pasien.
  • Penilaian kepuasan secara real‑time: Sistem survei digital akan dipasang di setiap ruang tunggu untuk mengukur persepsi pasien secara langsung, sehingga perbaikan dapat dilakukan secara cepat.
  • Tim respons cepat: Dibentuk tim khusus yang menangani keluhan emosional atau psikologis pasien, terutama bagi mereka yang mengalami trauma akibat penyakit atau prosedur medis.

Selain itu, Robby menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor. Ia mengajak Dinas Kesehatan Kabupaten dan Pemerintah Kota Salatiga untuk bersama‑sama mengoptimalkan sumber daya, baik dalam bentuk tenaga medis maupun fasilitas pendukung. “Kita tidak dapat beroperasi dalam silo. Kesuksesan pelayanan kesehatan tergantung pada sinergi antara pemerintah, institusi pendidikan, dan rumah sakit,” tambahnya.

Para tenaga kesehatan di RSUD dr. Soebarkat Tjiptodarmodjo menyambut baik inisiatif tersebut. Dr. Siti Aisyah, Kepala Departemen Penyakit Dalam, menyatakan, “Pelatihan empati akan menambah nilai kompetensi kami. Kami percaya bahwa pasien yang merasa dipahami akan lebih kooperatif dalam proses pengobatan, sehingga hasil klinis pun akan lebih baik.”

Pengalaman nyata juga memperkuat pentingnya empati. Seorang pasien bernama Budi (45 tahun) yang baru saja menjalani operasi bypass jantung mengakui, “Dokter dan perawat tidak hanya memperhatikan kondisi fisik saya, tetapi juga memberi dukungan moral. Itu membuat saya lebih kuat menghadapi masa pemulihan.”

Robby Hernawan menutup pernyataannya dengan harapan bahwa RSUD dr. Soebarkat Tjiptodarmodjo menjadi contoh teladan bagi fasilitas kesehatan lain di Jawa Tengah. “Jika kami mampu menumbuhkan budaya empati di sini, maka dampaknya akan meluas ke seluruh wilayah, meningkatkan kepercayaan publik terhadap sistem kesehatan,” ujar ia.

Dengan langkah‑langkah strategis dan komitmen kuat dari pemimpin daerah, diharapkan standar pelayanan kesehatan di Salatiga tidak hanya tinggi secara teknis, tetapi juga hangat secara manusiawi. Upaya ini diharapkan dapat menciptakan lingkungan rumah sakit yang lebih ramah, meningkatkan kepuasan pasien, dan pada akhirnya memperkuat reputasi RSUD dr. Soebarkat Tjiptodarmodjo sebagai pusat layanan kesehatan terdepan di wilayah tersebut.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin penulis.

Komentar (0)