Kru Sound Horeg Starmax Meninggal Tersengat Listrik di Karnaval Bogotanjung, Gabus
Karesidenan.com – 15 April 2026 | Tragedi mengerikan menimpa salah satu anggota kru sound system pada Sabtu malam, 11 April 2026, saat sebuah karnaval desa berlangsung di Bogotanjung, Kecamatan Gabus, Kabupaten Pati. Galang, seorang pemuda berusia 20 tahun asal Dusun Dorok, Desa Manggis, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri, tewas setelah tersengat listrik saat berusaha mengevakuasi kabel yang terjepit pada truk sound system milik Horeg Starmax.
Walaupun Galang mengenakan sarung tangan karet sebagai pelindung, kondisi cuaca yang sedang hujan deras membuat sarung tangan tersebut basah, sehingga tidak mampu menahan arus listrik yang mengalir. Akibatnya, Galang mengalami sengatan listrik yang kuat, yang kemudian menyebabkan henti jantung.
Dua saksi mata, Africal Juan Setiawan (20) asal Kabupaten Malang dan Sularno (42) warga Kota Batam, segera memberikan pertolongan pertama dan mengantar korban ke RSU Kayen. Sayangnya, ketika sampai di instalasi gawat darurat, tim medis menyatakan Galang sudah meninggal dunia.
Pihak kepolisian yang menerima laporan langsung melakukan penyelidikan di lokasi. Pemeriksaan awal tidak menemukan unsur kesengajaan; peristiwa ini dinyatakan sebagai kecelakaan kerja. Kapolsek menegaskan bahwa penyebab kematian adalah akibat sengatan listrik yang mengakibatkan henti jantung.
Setelah pemakaman, jenazah Galang dibawa oleh keluarga dan manajemen Sound Starmax ke Kabupaten Kediri untuk dimakamkan sesuai dengan adat setempat. Kejadian ini menimbulkan keprihatinan mendalam di kalangan masyarakat dan pelaku acara serupa, mengingat pentingnya keselamatan kerja terutama dalam penggunaan peralatan listrik di luar ruangan.
Polisi mengimbau kepada semua penyelenggara acara dan masyarakat umum untuk meningkatkan kewaspadaan dalam penggunaan peralatan listrik, terutama saat cuaca buruk. Mereka menekankan bahwa peralatan harus diperiksa secara rutin, kabel harus terlindungi, serta perlengkapan pelindung seperti sarung tangan harus dalam kondisi kering dan layak pakai.
Selain itu, pihak berwenang menyoroti pentingnya edukasi keselamatan kerja bagi pekerja lapangan. Pelatihan tentang penanganan kabel listrik, penggunaan alat pelindung diri (APD), serta prosedur evakuasi darurat diharapkan dapat mengurangi risiko kecelakaan serupa di masa depan.
Kasus ini juga membuka diskusi tentang regulasi keamanan pada acara publik di daerah pedesaan. Beberapa pihak mengusulkan agar pemerintah daerah menetapkan standar minimum keamanan listrik untuk setiap acara yang melibatkan peralatan listrik skala besar, termasuk keharusan inspeksi pra-acara oleh teknisi bersertifikat.
Secara keseluruhan, tragedi ini menjadi peringatan keras bagi semua pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan event publik. Keselamatan harus menjadi prioritas utama, mengingat potensi bahaya yang dapat muncul dari peralatan listrik yang tidak dikelola dengan tepat. Diharapkan, melalui langkah-langkah preventif dan peningkatan kesadaran, insiden serupa tidak akan terulang lagi.

Komentar (0)