Deddy Corbuzier Menggempur Steven Wongso: Konten Hina Gemuk Bikin Geger, Simak Semua Detailnya!

Oleh Tim Karesidenan 15 Apr 2026, 19:35 WIB 14 Views

Karesidenan.com – 15 April 2026 | Rabu, 15 April 2026 menjadi saksi terjadinya benturan verbal yang cukup memanas di dunia maya. Seorang mentalis dan podcaster ternama, Deddy Corbuzier, melontarkan serangkaian kritik tajam terhadap selebgram asal Surabaya, Steven Wongso, yang baru-baru ini mengunggah video yang menyamakan orang gemuk dengan hewan. Konten tersebut langsung memicu reaksi keras dari publik, namun Deddy tak hanya menanggapi secara umum; ia mengupas tuntas keburukan narasi tersebut dalam episode terbarunya.

Menurut Deddy, pernyataan Steven yang menyinggung berat badan orang lain seakan‑akan menurunkan berat badan hanyalah soal niat dan disiplin saja, sangat menyesatkan. Ia menyoroti bahwa banyak faktor medis—seperti resistensi insulin, gangguan tiroid, atau kondisi hormonal—yang membuat proses penurunan berat badan jauh lebih kompleks daripada sekadar “berusaha lebih keras”. Deddy menegaskan, “Lo bahas kondisi fisik orang lain, sedangkan lo sendiri pakai cheat code (steroid). Apa bedanya lo sama orang yang lo katain?”

Steven Wongso, yang sebelumnya dikenal lewat konten fitness dan lifestyle, mengakui bahwa video kontroversial itu dilatarbelakangi rasa kesepian. “Jujur, saya kesepian. Saya pengin banyak yang komentar di konten itu,” ungkapnya dalam wawancara di kanal YouTube Deddy. Pengakuan ini justru menambah panasnya debat, karena publik menilai motivasinya sebagai upaya mencari perhatian alih‑alih menyampaikan pesan edukatif.

Sementara itu, Steven juga membuka tabir trauma masa kecil yang menjadi pemicu kebiasaannya melontarkan kata‑kata kasar. Ia mengisahkan pernah mengalami obesitas parah saat duduk di bangku SMP, ketika ayahnya menggunakan bahasa keras untuk memaksanya berubah. “Dari dulu saya dididik keras. Kata‑katanya memang kasar, tapi itu yang bikin saya berubah,” katanya. Pengalaman ini, menurutnya, menimbulkan pola pikir bahwa mengkritik orang gemuk adalah cara yang sah untuk memotivasi perubahan.

Namun, Deddy tidak tinggal diam. Ia menekankan pentingnya empati dan menolak segala bentuk diskriminasi berbasis fisik. Dalam rangkaian argumennya, Deddy menyebutkan tiga poin utama yang menjadi inti kritiknya:

  • Fakta medis: Penurunan berat badan dipengaruhi oleh kondisi kesehatan yang tidak selalu dapat diatur dengan kehendak semata.
  • Etika konten: Membandingkan orang gemuk dengan hewan merupakan bentuk penghinaan yang melanggar norma sosial dan dapat menimbulkan dampak psikologis negatif.
  • Penggunaan steroid: Steven mengakui pernah memakai steroid untuk mempercepat pembentukan otot, namun tetap mengkritik orang lain yang belum atau tidak menggunakannya.

Pernyataan Deddy mendapat dukungan luas dari netizen yang menilai bahwa pembicaraan mengenai berat badan harus diiringi dengan sensitivitas dan pengetahuan yang memadai. Beberapa komentar menyoroti pentingnya edukasi tentang kesehatan, bukan sekadar body shaming. Di sisi lain, ada pula suara yang mempertahankan kebebasan berpendapat, meski mengakui cara penyampaiannya kurang tepat.

Kontroversi ini juga menimbulkan diskusi tentang tanggung jawab kreator konten di era digital. Platform media sosial kini semakin menuntut standar etika yang jelas, terutama ketika menyentuh isu‑isu pribadi seperti penampilan tubuh. Deddy menutup podcasnya dengan harapan agar semua kreator lebih bijak dalam menyampaikan pesan, mengingat dampak luas yang dapat tercipta.

Secara keseluruhan, perdebatan antara Deddy Corbuzier dan Steven Wongso menjadi contoh nyata bagaimana sebuah konten yang tampak sederhana dapat memicu percakapan mendalam tentang kesehatan, etika, dan trauma pribadi. Meskipun Steven sudah mengakui kesalahannya dan meminta maaf, episode ini tetap menjadi pelajaran penting bagi siapa saja yang berkecimpung di dunia digital.

Ke depan, diharapkan para influencer dapat lebih memperhatikan nuansa bahasa, mengedepankan fakta ilmiah, serta menghindari stereotip yang dapat melukai perasaan masyarakat. Sementara Deddy Corbuzier terus menggunakan platformnya untuk mengedukasi publik tentang pentingnya empati dan pemahaman kesehatan yang holistik.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin penulis.

Komentar (0)