Kuli Panggul Blora Realisasikan Impian Haji Usai 20 Tahun Menabung

Oleh Budi Cahyono 14 Apr 2026, 23:20 WIB 17 Views

Karesidenan.com – 14 April 2026 | Sumarno, seorang kuli panggul berusia 63 tahun yang bekerja di Pasar Tunjungan, Blora, kini dipastikan dapat menunaikan ibadah haji pada tahun ini. Pria asal Desa/Kecamatan Tunjungan ini menghabiskan enam puluh tahun hidupnya dengan kerja keras, namun keberhasilan menunaikan rukun Islam lima tersebut tidak terlepas dari disiplin menabung selama dua dekade.

Setiap hari, Sumarno berangkat ke pasar pada pukul enam pagi, memuat barang-barang berat hingga selesai pada pukul sembilan siang. Pekerjaan yang menuntut tenaga fisik ini memberikan penghasilan yang relatif terbatas, biasanya hanya cukup untuk kebutuhan pokok keluarga. Meski begitu, ia menolak untuk menganggap nasibnya terhalang oleh keterbatasan finansial.

“Saya selalu menyisihkan sebagian kecil uang yang saya dapat, sekurang‑kurangnya seratus ribu rupiah, setiap kali saya pulang,” ujar Sumarno dengan senyum lemah namun penuh kebanggaan. “Awalnya hanya niat menyiapkan dana darurat, tetapi lama‑lambah saya menambahkan tujuan haji sebagai impian terbesar.”

Strategi menabung yang dijalankan Sumarno sederhana namun konsisten:

  • Setiap selesai kerja, ia menaruh uang di dalam kotak logam berwarna merah yang disimpan di laci rumah.
  • Jika ada tambahan pendapatan dari pekerjaan sampingan, seperti membantu memindahkan barang di rumah warga, uang tersebut langsung dimasukkan ke dalam tabungan.
  • Pengeluaran tidak penting seperti makan di luar atau membeli barang elektronik ditunda hingga target haji tercapai.

Selama dua puluh tahun, total tabungan yang berhasil dikumpulkan mencapai lebih dari satu miliar rupiah, cukup untuk menutup biaya paket haji reguler beserta biaya transportasi, akomodasi, serta perlengkapan ibadah. Pada akhir tahun lalu, Sumarno menyerahkan dokumen pendaftaran haji kepada biro perjalanan resmi dan langsung terpilih sebagai salah satu jamaah yang berhak berangkat pada musim haji mendatang.

Kebahagiaan Sumarno tidak hanya dirasakan secara pribadi. Keluarga, tetangga, dan pedagang pasar Tunjungan menyambut kabar tersebut dengan tepuk tangan dan harapan. “Kami bangga dengan saudara kami yang tidak pernah menyerah,” kata salah satu rekan kerja, Hadi, yang sudah lama mengenal Sumarno. “Dia menjadi contoh bahwa kerja keras dan disiplin finansial dapat mengubah impian menjadi kenyataan, bahkan bagi orang biasa.”

Keputusan Sumarno untuk menunaikan haji juga menarik perhatian pihak berwenang setempat. Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten Blora memberikan apresiasi resmi melalui surat penghargaan, menyoroti pentingnya perencanaan keuangan jangka panjang bagi pekerja informal. “Kisah Pak Sumarno menegaskan bahwa pemerintah perlu memberikan edukasi literasi keuangan kepada masyarakat, terutama mereka yang bekerja di sektor informal,” ujar Kepala Dinas, Agus Prasetyo.

Secara lebih luas, kisah Sumarno mengingatkan publik akan nilai ketekunan dalam budaya menabung yang masih kuat di banyak wilayah Indonesia. Meskipun akses ke produk keuangan modern seperti tabungan digital atau investasi masih terbatas di daerah pedesaan, metode tradisional yang dilakukan Sumarno—menyimpan uang secara fisik dan menghindari konsumsi berlebih—buktinya tetap efektif bila diterapkan secara konsisten.

Di tengah tingginya biaya haji yang terus meningkat setiap tahunnya, banyak calon jamaah mengandalkan program pemerintah atau bantuan lembaga keagamaan. Namun, Sumarno membuktikan bahwa usaha pribadi dapat menutup kesenjangan tersebut. Ia mengaku berencana memanfaatkan kesempatan haji tidak hanya untuk beribadah, tetapi juga untuk memperdalam ilmu agama, sehingga dapat menjadi sumber inspirasi bagi generasi muda di desanya.

Dengan keberangkatan yang direncanakan pada kuota haji tahun ini, Sumarno menyiapkan diri secara fisik melalui latihan ringan, mengatur pola makan, serta mengikuti kursus singkat tentang tata cara ibadah haji. “Saya ingin menunaikan semua rukun haji dengan tenang, tanpa rasa bersalah karena tidak mempersiapkan diri,” ungkapnya.

Kesimpulannya, perjalanan hidup Sumarno menggambarkan bahwa tekad, disiplin menabung, dan kerja keras dapat mengatasi keterbatasan ekonomi. Ia tidak hanya mengukir prestasi pribadi, melainkan juga menjadi contoh inspiratif bagi masyarakat Blora dalam meraih impian spiritual melalui perencanaan keuangan yang matang.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin penulis.

Komentar (0)