HMTB ITB Minta Maaf atas Penyebaran Lagu ‘Erika’ yang Dikritik Vulgaritasnya

Oleh Tim Karesidenan 16 Apr 2026, 02:24 WIB 17 Views

Karesidenan.com – 16 April 2026 | JAKARTA – Himpunan Mahasiswa Tambang Institut Teknologi Bandung (HMTB ITB) menyampaikan permintaan maaf resmi kepada publik setelah sebuah lagu berjudul “Erika” yang mengandung lirik vulgar beredar luas dan menimbulkan keresahan, terutama di kalangan perempuan. Permintaan maaf tersebut disampaikan melalui pernyataan tertulis yang dikutip oleh ANTARA pada Rabu (15/4).

Dalam pernyataan yang dirilis, HMTB ITB mengakui bahwa menampilkan lagu tersebut merupakan sebuah kelalaian. “Kami menyadari merupakan kelalaian untuk tetap menampilkan lagu tersebut dengan perkembangan norma sosial dan kesusilaan di masyarakat dewasa ini,” ujar pernyataan itu. Organisasi menegaskan bahwa konten tersebut tidak mencerminkan nilai‑nilai yang seharusnya dijunjung oleh lingkungan akademik maupun organisasi kemahasiswaan, serta tidak membenarkan tindakan yang merendahkan martabat individu atau kelompok manapun.

Langkah-langkah yang diambil HMTB ITB setelah insiden ini meliputi:

  • Penarikan segera semua video dan audio berjudul “Erika” dari kanal resmi HMTB ITB.
  • Penghapusan materi serupa yang diunggah oleh akun‑akun individu yang berafiliasi dengan organisasi.
  • Koordinasi dengan pihak terkait, termasuk pihak kampus dan media, untuk memastikan tidak ada lagi konten yang menyinggung publik.
  • Evaluasi internal komprehensif terhadap prosedur penilaian konten dan pengawasan kegiatan seni.
  • Peninjauan kembali standar dan pedoman organisasi agar selaras dengan nilai‑nilai etika yang berkembang di lingkungan ITB dan masyarakat luas.

HMTB ITB juga menegaskan komitmennya untuk memperbaiki proses seleksi materi yang akan dipentaskan di masa mendatang, dengan menambahkan mekanisme verifikasi yang melibatkan pihak ketiga independen serta memperkuat pelatihan etika bagi anggota. “Kami melakukan evaluasi internal secara komprehensif terhadap konten, pelaksanaan serta pengawasan kegiatan atas lagu terkait dan lagu yang mengandung unsur serupa, serta meninjau kembali standar dan pedoman kegiatan organisasi agar selaras dengan nilai‑nilai etika yang berkembang di lingkungan Kampus ITB dan dalam masyarakat,” bunyi pernyataan resmi tersebut.

Reaksi publik terhadap penyebaran lagu “Erika” cukup kuat. Banyak pengguna media sosial yang mengkritik keberadaan lirik yang dianggap melecehkan perempuan dan menuntut pertanggungjawaban dari organisasi mahasiswa. Beberapa pihak menilai bahwa insiden ini mencerminkan kebutuhan akan pembaruan norma‑norma budaya kampus, khususnya dalam konteks seni pertunjukan yang melibatkan elemen tradisional namun harus disesuaikan dengan nilai‑nilai modern.

Para pengamat budaya kampus menilai bahwa kasus ini menjadi sinyal penting bagi seluruh institusi pendidikan tinggi di Indonesia untuk lebih proaktif dalam meninjau konten kreatif yang diproduksi oleh komunitas internal. “Kita tidak dapat menutup mata terhadap perkembangan sosial yang menuntut penghormatan terhadap hak asasi manusia, khususnya hak perempuan,” ujar seorang pakar sosiologi budaya dari Universitas Indonesia. “Organisasi mahasiswa harus menjadi contoh dalam menegakkan standar etika, bukan justru melanggarnya.”

HMTB ITB menutup pernyataannya dengan menyampaikan empati dan keprihatinan mendalam kepada masyarakat, khususnya perempuan, yang merasa tersakiti oleh lirik lagu tersebut. Permintaan maaf yang disampaikan mencakup komitmen untuk tidak mengulangi kesalahan serupa dan berjanji akan terus meningkatkan kualitas serta sensitivitas konten yang diproduksi.

Insiden ini menegaskan kembali pentingnya kesadaran akan dampak sosial dari karya seni, terutama di lingkungan akademik yang menjadi tempat pembentukan generasi penerus. Dengan langkah‑langkah korektif yang diambil, HMTB ITB berharap dapat memulihkan kepercayaan publik dan memperkuat integritas organisasi di mata mahasiswa dan masyarakat luas.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin penulis.

Komentar (0)