Menguak Makna ‘Nice’ dalam Bahasa Indonesia: Dari Kebaikan hingga Fenomena Cringe

Oleh Siska Putri 15 Apr 2026, 18:23 WIB 22 Views

Karesidenan.com – 15 April 2026 | Istilah nice telah menjadi bagian tak terpisahkan dari percakapan sehari-hari, terutama di kalangan generasi milenial dan Gen Z. Meskipun asal‑usulnya berasal dari bahasa Inggris, kata ini telah diadopsi secara luas dalam bahasa Indonesia, bahkan muncul dalam komentar video TikTok, status media sosial, hingga percakapan informal di kafe. Apa sebenarnya arti nice dalam konteks bahasa Indonesia, dan mengapa kata ini dapat menimbulkan perdebatan antara rasa nyaman dan rasa cringe?

Secara harfiah, nice berarti “baik”, “menyenangkan”, atau “menarik”. Kamus Cambridge mendefinisikannya sebagai sesuatu yang membuat orang merasa senang atau puas. Dalam penggunaan modern, makna tersebut meluas menjadi penilaian subjektif terhadap perilaku, penampilan, atau konten yang dianggap positif, sopan, atau menghibur. Misalnya, seseorang dapat menulis “Video itu sangat nice!” untuk mengekspresikan kepuasan pribadi atas kualitas visual atau pesan yang disampaikan.

Namun, makna nice tidak selalu bersifat universal. Budaya digital menambahkan lapisan interpretasi baru, terutama ketika kata ini dipakai untuk menilai karya orang lain. Di platform TikTok, istilah nice sering muncul bersamaan dengan label cringe. Menurut artikel Kompas, cringe mengacu pada perasaan malu atau tidak nyaman saat menyaksikan sesuatu yang terkesan dipaksakan atau tidak autentik. Dengan kata lain, nice dan cringe berdiri pada spektrum yang berlawanan: satu menandakan kepuasan, sedangkan yang lain menandakan rasa tidak enak.

Untuk memahami dinamika ini, mari kita telaah contoh konkret dari dua ranah berbeda: budaya populer dan praktik keagamaan. Pada ranah budaya populer, konten yang dianggap “nice” biasanya menampilkan keaslian, kreativitas, dan kepekaan sosial. Sebuah video tarian yang diproduksi dengan sederhana namun menampilkan energi positif dapat mendapatkan komentar “nice” dari ribuan penonton. Sebaliknya, video yang terasa terlalu dibuat‑buatan, berusaha keras meniru tren tanpa sentuhan pribadi, sering kali dikategorikan sebagai “cringe”.

Di sisi lain, dalam konteks keagamaan, ada praktik yang secara intrinsik dipandang “nice” karena menonjolkan nilai kebaikan dan kesederhanaan. Salah satu contoh adalah tayamum, cara bersuci dengan debu atau tanah ketika air tidak tersedia. Tayamum merupakan bentuk keringanan (rukhsah) dalam syariat Islam, yang memungkinkan seorang Muslim tetap melaksanakan sholat meski kondisi fisik atau lingkungan tidak mendukung. Niat melakukan tayamum, seperti yang dijelaskan dalam sumber detikHikmah, mencerminkan keikhlasan dan keinginan untuk tetap berada dalam keadaan bersih secara spiritual. Karena niat dan pelaksanaannya yang bersahaja, tayamum dapat dipandang sebagai tindakan yang “nice”—yaitu sesuatu yang membawa manfaat, memudahkan, dan menumbuhkan rasa syukur.

Berikut rangkaian langkah tayamum yang umum dipraktikkan, ditulis dalam format daftar agar mudah diikuti:

  • Ucapkan niat: “Nawaytu tayammuma li istibakhati sholati lillahi ta’ala” (Aku berniat tayamum agar diperbolehkan salat).
  • Pastikan debu atau tanah yang digunakan bersih dan tidak terkontaminasi.
  • Usapkan kedua telapak tangan ke debu, kemudian sapukan ke wajah dan kedua tangan hingga pergelangan.
  • Setelah selesai, baca doa yang melibatkan pengakuan tauhid dan permohonan pembersihan diri.

Langkah‑langkah tersebut menegaskan nilai praktis dan spiritual yang dapat membuat praktik ini terasa “nice” bagi umat Islam yang menghadapinya.

Ketika kata nice dipadukan dengan fenomena cringe di dunia digital, muncul pola penilaian yang menarik. Pengguna media sosial secara cepat memberikan label pada konten berdasarkan persepsi pribadi mereka. Sebuah konten yang menonjolkan nilai estetika sederhana, seperti tayamum yang di‑documentasikan secara singkat dan jelas, dapat memperoleh respons positif berupa “nice” karena mengedukasi sekaligus menginspirasi. Sebaliknya, video yang meniru gaya hidup mewah tanpa konteks yang jelas atau berusaha memaksakan humor yang tidak relevan dapat dengan mudah masuk dalam kategori “cringe”.

Penting untuk menyadari bahwa penilaian nice atau cringe bersifat subjektif dan dipengaruhi oleh latar belakang budaya, usia, serta pengalaman individu. Apa yang dianggap “nice” oleh satu kelompok dapat terasa “cringe” bagi kelompok lain. Hal ini sejalan dengan pendapat ahli bahasa yang menyebutkan bahwa istilah slang seperti nice dan cringe terus berevolusi sesuai dinamika sosial media.

Berikut tabel perbandingan singkat antara dua istilah tersebut:

Aspek Nice Cringe
Emosi yang dipicu Kepuasan, rasa nyaman Malu, rasa tidak nyaman
Penggunaan umum Penghargaan atas keaslian, kreativitas Penilaian negatif terhadap kepaksaan atau kebohongan
Contoh konten Video tutorial tayamum yang jelas Video promosi produk berlebihan tanpa nilai tambah

Dari perspektif komunikasi, pemilihan kata yang tepat dapat memengaruhi persepsi audiens secara signifikan. Menggunakan istilah nice untuk menilai sesuatu yang memang memberikan manfaat atau kebahagiaan dapat memperkuat pesan positif. Sebaliknya, menyebut sesuatu “cringe” tanpa dasar yang kuat dapat menimbulkan konfrontasi atau menurunkan rasa empati.

Kesimpulannya, arti nice dalam bahasa Indonesia melampaui sekadar terjemahan literal “baik”. Ia mencerminkan sebuah penilaian positif yang dipengaruhi oleh konteks sosial, budaya, dan digital. Dengan memahami perbedaan antara nice dan cringe, pengguna media sosial dapat lebih bijak dalam memberikan respons, sekaligus menghargai nilai‑nilai sederhana seperti tayamum yang mengajarkan kebaikan dalam keterbatasan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin penulis.

Komentar (0)