Transportasi Sulawesi Selatan Lebih Aman: Jasa Raharja Gandeng Penta Helix Perkuat Pencegahan Kecelakaan

Oleh Tim Karesidenan 15 Apr 2026, 11:35 WIB 16 Views

Karesidenan.com – 15 April 2026 | Makassar, 14 April 2026 – Sebuah forum kolaboratif yang melibatkan unsur Penta Helix diadakan di Kantor Wilayah Jasa Raharja Sulawesi Selatan, dengan tujuan mengubah paradigma keselamatan transportasi dari responsif menjadi preventif berbasis data. Diskusi yang dipimpin oleh Direktur Utama Jasa Raharja, Muhammad Awaluddin, menghadirkan perwakilan dari kepolisian, dinas-dinas terkait, akademisi, serta komunitas pengguna transportasi.

Awaluddin menekankan bahwa data Triwulan I 2026 menunjukkan peningkatan santunan Jasa Raharja di provinsi ini sebesar 11,14% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sekaligus mencatat lebih dari 2.000 kasus kecelakaan lalu lintas, naik sekitar 8%. Secara nasional, data IRSMS Korlantas Polri melaporkan lebih dari 151.000 kecelakaan dengan lebih dari 217.000 korban per tahun, dengan tren kenaikan yang konsisten.

“Kecelakaan bukan sekadar kehilangan nyawa, melainkan juga mengganggu struktur sosial‑ekonomi keluarga korban, terutama bila mereka berada dalam usia produktif,” ujar Awaluddin. Ia menambahkan bahwa Jasa Raharja tidak hanya berperan dalam penyaluran santunan, melainkan juga dalam peta rawan kecelakaan (blackspot), edukasi tersegmentasi, dan peningkatan kapasitas respon pertama.

Dirlantas Polda Sulawesi Selatan, Kombes Pol. Pria Budi, menyampaikan bahwa meski jumlah kecelakaan naik 8%, angka fatalitas berhasil ditekan 24%: dari 234 jiwa pada Triwulan I 2025 menjadi 179 jiwa pada periode yang sama tahun 2026. Data tersebut menunjukkan bahwa 74% kecelakaan merupakan kecelakaan tunggal, dengan sepeda motor terlibat dalam 78% kasus. Puncak kejadian terjadi antara pukul 15.00‑18.00 WITA, pada kondisi cuaca cerah dan jalan baik.

Tahun Kecelakaan (kasus) Korban Meninggal
Triwulan I 2025 ≈1.850 234
Triwulan I 2026 ≈2.000 179

Polda Sulsel juga telah memetakan titik rawan kecelakaan dengan konsentrasi tertinggi di Makassar, Maros, Barru, dan Pangkep. Penegakan hukum didukung oleh 89 unit ETLE, terdiri dari 14 unit statis dan 74 unit handheld.

Forum menghasilkan beberapa kesepakatan strategis, antara lain:

  • Penguatan edukasi interaktif keselamatan berkendara di titik rawan melalui media visual dan simulasi.
  • Perluasan program E‑PELANTAS ke seluruh kabupaten/kota di Sulawesi Selatan.
  • Integrasi data SIM‑RS dengan platform JR Care untuk mempercepat penerbitan Guarantee Letter (GL) bagi korban.
  • Pelatihan Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD) bagi komunitas pengemudi sebagai first responder.

Dinas Bina Marga Provinsi Sulawesi Selatan merencanakan pemeliharaan dan peningkatan jalan sepanjang 1.000 km pada periode 2025‑2027, sementara Dinas Perhubungan berkomitmen menambah koridor angkutan umum dari dua menjadi tiga koridor, guna mengurangi beban lalu lintas di titik-titik rawan.

Jasa Raharja menilai kolaborasi lintas sektor ini krusial untuk membangun peta jalan keselamatan transportasi berbasis data lokal. Pendekatan penta helix diharapkan dapat menutup celah antara kebijakan, penegakan hukum, edukasi, infrastruktur, dan respons medis, sehingga mengurangi angka kecelakaan dan meningkatkan peluang selamat pada fase “golden period” setelah kejadian.

Kesimpulannya, meski jumlah kecelakaan di Sulawesi Selatan menunjukkan tren naik, langkah-langkah preventif yang terintegrasi—dari pemetaan blackspot, edukasi tersegmentasi, hingga pelatihan first responder—menunjukkan potensi nyata untuk menurunkan fatalitas dan meningkatkan rasa aman masyarakat dalam bertransportasi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin penulis.

Komentar (0)