Wakil Ketua DPRD Jateng Dorong Perluasan Akses Literasi lewat Perpustakaan Desa dan Layanan Digital

Oleh Janto Janto Galvin 21 Apr 2026, 04:20 WIB 14 Views

Karesidenan.com – 21 April 2026 | Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Tengah, Mohammad Saleh, menegaskan pentingnya memperluas jangkauan literasi ke seluruh pelosok provinsi. Dalam pernyataan resmi yang disampaikan di kantor DPRD, ia menekankan bahwa akses membaca dan informasi tidak boleh terbatas pada pusat kota, melainkan harus merata hingga ke desa‑desa terpencil.

Data terbaru yang dirilis oleh Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Arpus) Jawa Tengah menunjukkan bahwa jumlah kunjungan ke Perpustakaan Daerah (Perpusda) mencapai 4.377.263 orang sepanjang tahun 2025. Angka tersebut mencerminkan tingginya kebutuhan masyarakat akan bahan bacaan, namun sekaligus mengungkap kesenjangan signifikan antara wilayah urban dan rural dalam hal fasilitas perpustakaan.

Untuk menanggulangi kesenjangan itu, Mohammad Saleh mengusulkan serangkaian langkah konkret, antara lain penguatan perpustakaan desa melalui penyediaan koleksi buku yang relevan, peningkatan infrastruktur ruang baca, serta pelatihan pengelola perpustakaan lokal. Ia menambahkan bahwa perpustakaan desa harus menjadi pusat kegiatan edukatif, bukan sekadar ruang penyimpanan buku.

Di samping peningkatan fisik, Waka DPRD juga menyoroti peran layanan digital sebagai katalisator literasi modern. Program digitalisasi katalog, penyediaan e‑book gratis, serta akses internet cepat di perpustakaan desa diharapkan dapat menghubungkan warga dengan sumber pengetahuan global. Kolaborasi dengan penyedia konten digital, universitas, serta lembaga non‑profit akan memperkaya konten yang tersedia bagi pembaca di daerah terpencil.

Berikut rangkaian aksi yang direncanakan:

  • Audit kebutuhan perpustakaan desa untuk menentukan koleksi buku yang paling dibutuhkan.
  • Penyediaan dana khusus bagi renovasi ruang baca dan pembelian perangkat IT.
  • Pembentukan jaringan perpustakaan digital yang terintegrasi dengan sistem katalog pusat.
  • Pelatihan rutin bagi pustakawan desa dalam penggunaan teknologi informasi.
  • Peluncuran program literasi keliling menggunakan mobil perpustakaan yang mengunjungi sekolah dan komunitas.

Implementasi kebijakan ini diharapkan dapat menurunkan disparitas akses literasi, meningkatkan tingkat melek huruf, serta memberi dampak positif pada kualitas pendidikan di wilayah pedesaan. Dengan menyediakan bahan bacaan yang beragam dan mudah diakses, masyarakat desa dapat memperluas wawasan, meningkatkan kemampuan menulis, dan berpartisipasi lebih aktif dalam pembangunan daerah.

Selain manfaat edukatif, perluasan layanan literasi juga berpotensi memperkuat ekonomi lokal. Literasi yang baik menjadi modal penting bagi pelaku UMKM dalam mengakses informasi pasar, mengelola keuangan, serta mengadopsi teknologi baru. Oleh karena itu, dukungan terhadap perpustakaan desa dan layanan digital tidak hanya menjadi agenda budaya, melainkan bagian integral dari strategi pembangunan berkelanjutan Jawa Tengah.

Kesimpulannya, upaya Mohammad Saleh untuk memperluas akses literasi melalui penguatan perpustakaan desa dan layanan digital mencerminkan komitmen pemerintah daerah dalam mewujudkan pemerataan pengetahuan. Jika dijalankan secara konsisten, inisiatif ini dapat menjadi contoh bagi provinsi lain dalam menutup kesenjangan literasi dan mendorong pertumbuhan sumber daya manusia yang lebih kompetitif.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin penulis.

Komentar (0)